Jumat, 03 November 2017

MENULIS ESSAI ITU MUDAH

Menulis adalah salah satu keterampilan bahasa yang rata-rata tidak disukai oleh siswa, termasuk jenis teks essai. Mendengar istilah essai, dalam benak siswa sudah dipenuhi dengan gambaran rumit isi tulisan yang harus berbobot dan ilmiah. Mereka sudah merasa tidak mampu untuk melakukan kajian mendalam tentang suatu kasus setelah kegiatan observasi yang melelahkan.
Namun pemikiran tersebut tidak berlaku lagi bagi siswa MTsN 2 Bantul. Titik balik pola pikir bahwa menulis essai tidaklah serumit yang selama ini mereka pikirkan terjadi saat mereka mengikuti Workshop Penulisan Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan oleh OSIS MTsN 2 Bantul pada 12 Juni 2017 lalu. Kehadiran dua narasumber yang sudah berkompeten di bidang menulis dalam wokrshop tersebut telah mengubah mindset mereka tentang jenis tulisan yang bernama essai ini.
Rupanya kegiatan tersebut telah memunculkan gairah atau minat siswa untuk menulis. Tidak tanggung-tanggung, Event pertama yang mereka ikuti untuk menjajagi kemampuan mereka adalah event International Essay Contest 2017 for Young People yang diselenggerakan oleh The Goi Peace Foundation dari Tokyo Jepang yang bekerja sama dengan UNESCO, pada 15 Juni 2017 lalu. Dari 20 peserta workshop, ada sebanyak 14 siswa yang mengikuti lomba menulis essai tingkat international ini.
Keempat belas siswa tersebut berhasil menulis essai yang bertema “Learning From Nature”. Bersama-sama mereka mengetik naskah mereka di laboratorium komputer MTsN 2 Bantul, dengan didampingi oleh Yulian Istiqomah, S.Pd., pembimbing mereka. Dengan bantuan kamus dan sambungan internet, mereka berlatih mentranslate essai mereka ke dalam bahasa Inggris, kemudian mengkonsultasikannya kepada guru bahasa Inggris mereka, Ely Widayati, S.Pd. Hanya dalam waktu 3 hari saja, secara kolektif mereka berhasil mengirimkan essai mereka ke alamat email penyelenggara lomba sebelum dealine pengiriman naskah lomba.
“Menulis essai itu ternyata mudah. Hanya seperti bercerita, menggabungkan antara fakta yang kita lihat atau kita amati dengan opini kita tentang suatu hal atau objek. Apalagi dengan tema yang mudah, yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, kita tinggal mengingatnya lalu menuliskannya secara rinci dan sistematis.” Ungkap Ika Wulandari, salah satu peserta lomba International Essay Contest 2017 for Young People.
Setelah mendapatkan e-sertifikat dari UNESCO sebagai partisipan lomba, para siswa tampak lebih bersemangat lagi ketika sertifikat tersebut dibagikan setelah upacara bendera. Tak sabar mereka menanti informasi kejuaraan yang akan ditayangkan oleh The Goi Peace Foundation pada tanggal 31 Oktober mendatang. Mereka bermimpi memperoleh satu kesempatan emas menoreh kenangan berkunjung ke negeri sakura itu, sebagai prestasi yang akan mereka persembahkan untuk almamater tercinta mereka.

Berawal dari keikutsertaan mereka dalam perlombaan internasional ini, saat ini mereka pun mulai aktif mencari informasi perlombaan di kancah nasional. Dengan berkarya mereka sekaligus ingin mengasah keterampilan menulis mereka. Ke depan, bukan hanya teks essai yang akan mereka buat, tetapi juga genre teks fiksi maupun nonfiksi yang lainnya, seperti opini, puisi, cerpen, bahkan novel. Harapannya, karya-karya mereka nantinya akan bergantian mengisi media masa lokal maupun nasional, sehingga dapat melambungkan nama madrasah mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar