Menulis adalah salah
satu keterampilan bahasa yang rata-rata tidak disukai oleh siswa, termasuk
jenis teks essai. Mendengar istilah essai, dalam benak siswa sudah dipenuhi dengan
gambaran rumit isi tulisan yang harus berbobot dan ilmiah. Mereka sudah merasa
tidak mampu untuk melakukan kajian mendalam tentang suatu kasus setelah
kegiatan observasi yang melelahkan.
Namun pemikiran
tersebut tidak berlaku lagi bagi siswa MTsN 2 Bantul. Titik balik pola pikir
bahwa menulis essai tidaklah serumit yang selama ini mereka pikirkan terjadi
saat mereka mengikuti Workshop Penulisan Karya Ilmiah Remaja yang
diselenggarakan oleh OSIS MTsN 2 Bantul pada 12 Juni 2017 lalu. Kehadiran dua
narasumber yang sudah berkompeten di bidang menulis dalam wokrshop tersebut
telah mengubah mindset mereka tentang
jenis tulisan yang bernama essai ini.
Rupanya kegiatan
tersebut telah memunculkan gairah atau minat siswa untuk menulis. Tidak
tanggung-tanggung, Event pertama yang
mereka ikuti untuk menjajagi kemampuan mereka adalah event International Essay
Contest 2017 for Young People yang diselenggerakan oleh The Goi Peace Foundation dari Tokyo
Jepang yang bekerja sama dengan UNESCO, pada 15 Juni 2017 lalu. Dari 20 peserta
workshop, ada sebanyak 14 siswa yang mengikuti lomba menulis essai tingkat
international ini.
Keempat belas siswa
tersebut berhasil menulis essai yang bertema “Learning From Nature”. Bersama-sama mereka mengetik naskah mereka
di laboratorium komputer MTsN 2 Bantul, dengan didampingi oleh Yulian
Istiqomah, S.Pd., pembimbing mereka. Dengan bantuan kamus dan sambungan
internet, mereka berlatih mentranslate
essai mereka ke dalam bahasa Inggris, kemudian mengkonsultasikannya kepada guru
bahasa Inggris mereka, Ely Widayati, S.Pd. Hanya dalam waktu 3 hari saja,
secara kolektif mereka berhasil mengirimkan essai mereka ke alamat email
penyelenggara lomba sebelum dealine pengiriman naskah lomba.
“Menulis essai itu
ternyata mudah. Hanya seperti bercerita, menggabungkan antara fakta yang kita
lihat atau kita amati dengan opini kita tentang suatu hal atau objek. Apalagi
dengan tema yang mudah, yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, kita
tinggal mengingatnya lalu menuliskannya secara rinci dan sistematis.” Ungkap
Ika Wulandari, salah satu peserta lomba
International Essay Contest 2017 for Young People.
Setelah mendapatkan
e-sertifikat dari UNESCO sebagai partisipan lomba, para siswa tampak lebih
bersemangat lagi ketika sertifikat tersebut dibagikan setelah upacara bendera. Tak
sabar mereka menanti informasi kejuaraan yang akan ditayangkan oleh The Goi Peace Foundation pada tanggal 31
Oktober mendatang. Mereka bermimpi memperoleh satu kesempatan emas menoreh
kenangan berkunjung ke negeri sakura itu, sebagai prestasi yang akan mereka
persembahkan untuk almamater tercinta mereka.
Berawal dari
keikutsertaan mereka dalam perlombaan internasional ini, saat ini mereka pun
mulai aktif mencari informasi perlombaan di kancah nasional. Dengan berkarya
mereka sekaligus ingin mengasah keterampilan menulis mereka. Ke depan, bukan
hanya teks essai yang akan mereka buat, tetapi juga genre teks fiksi maupun
nonfiksi yang lainnya, seperti opini, puisi, cerpen, bahkan novel. Harapannya,
karya-karya mereka nantinya akan bergantian mengisi media masa lokal maupun
nasional, sehingga dapat melambungkan nama madrasah mereka.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar