Kasih ibu kepada beta, Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali, Bagai sang surya menyinari dunia
Sebuah lirik lagu yang telah akrab di telinga kita. Sebuah lagu yang melukiskan kasih sayang seorang ibu. Ya, siapa yang bisa menampiknya? Seorang ibu memang sosok yang begitu berjasa dan bak pelita hidup kita.
Berbicara tentang seorang ibu, teringat dalam benakku sosok tinggi kurus putih dengan berbagai penyakit yang bersarang di tubuhnya. Masih belia usiaku kala itu,10 tahun. Usia dimana seorang anak belumlah mengerti cara berbakti, usia di mana seorang anak baru membutuhkan banyak bimbingan dan belaian seorang ibu untuk pertumbuhannya.
“Minum obat lagi ya, Bu?” tanyaku di suatu petang. Kulihat tangan ibu gemetar ketika hendak mengambil cangkir minumnya.
Aku bergegas mengambilkannya. Ibu mengangguk. Begitu banyak obat yang menemani hari-hari ibuku. Ibu tak banyak tersenyum, dahinya sering kali berkerut. Wajah cantik ibu tampak tirus dan pucat. Rambut Panjangnya yang baru selalu digelung di belakang. Usai minum obat Ia duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya untuk mengatur nafasnya.
Di kamar besar itu, terdapat dua tempat tidur berukuran 160x200 cm dengan dua buah almari baju masing-masing di ujungnya. Ada juga sebuah meja kerja besar milik ayah di tengahnya. Di atas tempat tidurku terdapat jendela kecil beruji kayu. Di sanalah aku sering memanjat dan mengintip aktifitas teman-temanku di luar sana. Dari balik dinding kamarku jendela itu tampak tinggi, sehingga sering temanku melempari batu sembari memanggilku ketika hendak mengajakku bermain. Mungkin ia malas memutari rumahku untuk mengetuk pintu. “Li, kemari!” Kudengar kakak tertuaku, Nur, memanggilku.
Aku bergegas ke ruang tengah. Rupanya telah siap sajian makan malam untuk seluruh anggota keluargaku. Aku anak ke 7 dari 8 bersaudara. Jika berkumpul di meja makan di ruang tengah, maka sungguh meriah. Jika ibu sehat, ibu pasti duduk di kursi kesayangannya sembari tersenyum mengamati perilaku putra-putrinya. Belum pernah kudengar perkataan kasar keluar dari bibir manisnya. Ibu seorang yang lembut namun tegas. Ia memiliki cara unik untuk mengingatkan putra-putrinya tanpa suara. Cukup dengan tatapan mata tajam tanpa kedip dan sedikit alis berkerut di dahinya, sudah membuat putra-putrinya mundur teratur tidak jadi melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.
“Antarkan makan malam ibu ke kamar ya, nanti Ayah yang temani ibu makan,” pinta Mbak Nur.
Dengan sigap aku segera membawakan makan malam ibu. Aku letakkan di meja kerja ayah begitu perlahan. Kulihat ibu sedikit tertidur. Sejak ibu sakit, kami berusaha menjaga suasana rumah tetap tenang. Ibu tidak menyukai pertengkaran, maka ia pun seringkali hanya memendam masalah yang dihadapinya di dalam hati saja. Tak pernah kudengar ibu bertengkar dengan ayah.
Kudengar cerita dari seorang tetangga yang sudah renta, ibuku dulu adalah kembang desa. Ibuku anak semata wayang namun telah dikaruniai 8 anak dari pernikahannya dengan seorang guru muda, ayahku. Hampir setiap dua tahun ia kembali harus menimang bayi, sembari mengurus anak-anaknya yang masih balita. Tubuhnya yang dulu indah dipandang mata, lantas menjadi kurus dengan beberapa penyakit yang bersarang di tubuhnya.
Hari itu, ketika pulang sekolah, kudapati kabar bahwa ibu dibawa ke rumah sakit. Tempat tidur ibu kosong, rapi. Beberapa hari kesunyian mederaku. Di kamar besar itu hanya untuk tidur aku dan adikku. Sedang kakak-kakakku berada di kamar mereka sendiri. Aku rindu ketika sering ibu mengajakku keluar rumah dan duduk di taman depan joglo. Aku menemaninya sambil bermain bersama adikku di sisinya. Adikku berusia 2 tahun lebih muda dariku. Kami sering memakai baju kembaran. Ibuku pintar menjahit. Aku dan adikku sering dibuatkan baju oleh ibu. Baju andalan kami adalah dress putih dengan motif polkadot hitam putih dengan renda putih pada tepian roknya. Secara bergiliran kami duduk di depan ibu agar rambut kami diikat dengan pita. Rambut kami yang sebahu pun jadi tampak cantik dibuatnya.
, . Pagi itu, kami berangkat sekolah dengan tubuh lesu. Aku memikirkan ibu. Aaku selalu mengkawatirkan kesehatan ibu. Kudengar sakit paru-parunya kian parah. Ibuku tengah melawan rasa sakitnya di rumah sakit. Entah mengapa aku merasa hampa. Semalaman memeluk adikku yang kian tersedu. Diam-diam mataku pun berkaca-kaca. Aku tak mau adikku mendengar tangisanku, sebab aku harus menguatkannya.
Hari itu, seusai upacara, kami belajar Bahasa Indonesia. Pelajaran demi pelajaran berlangsung menyenangkan hingga seorang tetangga datang untuk menjemputku di kelas. Seolah tahu kabar apa yang dibawanya. Aku tak menunggunya untuk menggandengku. Aku berlari menuju rumahku meninggalkan tetanggaku jauh di belakang. Tiba di ujung jalan kulihat banyak warga memenuhi halaman rumahku. Bendera putih itu menguatkan dugaanku.
Aku berlari dan meraung memanggil ibu. Jenazah ibu belum lama tiba di rumah joglo itu. Kulihat adikku menangis dalam pelukan kakakku. Kini, kami telah benar-benar kehilangan sosok ibu yang penuh kasih dan memiliki kesabaran seluas Samudra. Banyak bulir air mata kudapati pada beberapa pasang mata warga dan sanak keluarga yang memandangi kami, kedelapan anaknya yang tergugu melihat keranda jenazah ibu berlalu. Aku berlari mengejarnya, hingga sepasang tangan lembut mengendongku sembari berjalan menuju pemakaman, budheku rupanya. Darinya aku mendengar bahwa ibuku kini tidak sakit lagi. Ibu sudah bahagia di sisi Allah swt, dan aku harus menjadi anak kuat nan hebat yang dapat mengiriminya hadiah berupa doa agar ibu bahagia di sana. Selamat jalan ibu.
Puluhan tahun berlalu. Kini, aku juga telah menjadi sosok ibu dari kedua putra-putriku. “Ah, mereka cucu-cucumu yang lucu, ibu. Inysaallah, akan kubimbing mereka menjadi pelita bagi orang-orang di sekelilingnya.” bisikku membari memandangi foto ibu yang kubingkai di ruang tamu rumahku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar